Pictures Taken from US Army Africa (w/o Permission)
Beberapa hari ini gw ngikutin terus berita health care reform, sebuah agenda Barack Obama untuk menjamin kesehatan setiap warga negara yang dibayar melalui pajak. Bagi beberapa orang ini mungkin adalah sesuatu yang berbau sosialisme karena ia adalah salah satu bentuk redistribusi pendapatan, tapi seperti kata Michael Moore dalam Sicko, kalau ekonomi sosialis bisa hidup dan meningkatkan tingkat kehidupan warga yang tinggal di negara demokrasi dalam bentuk Kepolisian, Pemadam Kebakaran, dan Jaminan Pensiun, mengapa tidak Asuransi kesehatan?
Hanya yang ingin gw catat di blog ini bukan masalah health care reformnya Obama, tapi kenyataan bahwa apa yang sedang dilakukan Obama, itu mati-matian dijegal oleh perusahaan Asuransi Kesehatan yang terancam jatuh pendapatannya, bisa kehilangan milyaran dollar perbulan kalau agenda Obama ini benar-benar goal. Dan salah satu cara mereka, perusahaan Asuransi ini menjegal agenda pemerintahan Obama adalah dengan membelokkan informasi, membuat informasi yang hitam-putih jadi abu-abu.
Salah satu isu yang berhasil mereka belokkan dari kenyataan jadi kebohongan adalah sebuah panel yang menyediakan jasa konseling untuk warga Lansia yang hidupnya bisa dibilang hanya tinggal menunggu waktu karena penyakit kronis. Ini disalahartikan oleh mereka yang tanpa sadar (atau sadar) ikut jadi agen pembelokkan informasi menjadi sebuah panel yang mempunyai kekuatan “mahabesar” yang akan memutuskan pantas atau tidaknya nyawa sang lansia untuk dipertahankan.
Sebuah Death Panel.
Dan tentu saja ini memicu ketakutan masyarakat yang, well, bisa dibilang, berlebihan. Let’s just say kalau protes-protes dalam debat-debat ruangan itu terjadi di Indonesia, dengan begitu banyak tuduhan secara langsung bahwa Obama menjalankan atau merubah Amerika menjadi negara komunisme, sosialisme, akan banyak yang masuk penjara.
Tidak cuma tuduhan komunis, sosialis, tanpa mau tahu atau mengerti kedua ajaran tersebut, Obama bahkan dibandingkan dengan Hitler. Di Fox, salah satu orang gila sayap kanan Amerika bernama Glenn Beck menyebut Obama rasis karena ia menganggap segala kebijakan Obama bertujuan untuk “menghimpit warga kulit putih Amerika”.
Kalau itu terjadi di Indonesia, maka bisa dijamin, tv tersebut akan ditutup. Lengkap dengan dibuangnya sang pembawa berita ke luar negeri untuk “mengenyam pendidikan”.
*hint* Ira Koesno *hint*
Tapi rasanya semua hal diatas sulit terjadi di Indonesia. Bukan karena pemerintah tak mampu menciptakan kontroversi karena kebijakan, tapi karena kurangnya kepedulian rakyat kita terhadap suatu isu yang justru menyentuh prinsip atau inti dasar kehidupan bangsa sehari-hari.
RUU APP, RUU ITE tembus jadi Undang-Undang. Yang pertama melewati kontroversi yang belakangan hanya berakar pada garang-tidak garangnya judul. Begitu diubah judulnya jadi RUU Pornografi, rakyat seperti kehilangan selera memperdebatkan hal ini. Padahal isi Undang-Undang ini rata-rata pasal karet tanpa definisi yang jelas. Yang kalau tak hati-hati bisa jadi alat pengekang, amunisi penguasa atau yang bersalah untuk melindungi diri dari kritik. RUU ITE berubah jadi Undang-Undang dengan mengikutkan pasal Pencemaran Nama Baik, yang belakangan menjerat seorang ibu bernama Prita hanya karena ia merasa tak puas dengan pelayanan dokter.
Lalu sekarang RUU Rahasia Negara sudah hampir matang. Kemana debat publik yang harusnya berlangsung? Kemana suara-suara, kritik dan pesan-pesan marah rakyat yang merasa kebebasannya akan dikekang oleh pohon diktatorisme yang menyerap air tanah reformasi?
Jangankan debat waras yang manusiawi. Debat tidak waras, seperti yang warga Amerika sayap kanan lakukan dengan informasi yang salah saja tidak terjadi. Kita seperti kehabisan napas untuk meributkan oksigen yang semakin berkurang, tapi bersemangat untuk berteori siapa dari planet asing, yang berniat menggerecoki oksigen di planet Bumi. Tidakkah terpikir bahwa kita, sesama sedarah sewarga negara bisa tanpa sadar mengekang kebebasan berekspresi hanya karena takut dikritik selama 5 tahun kursinya bisa ia duduki?


